Mencontoh keberanian dan ketegasan Presiden ke-16 Amerika Serikat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta untuk mencontoh keberanian dan ketegasan Presiden ke-16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln, saat memutuskan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat pada 1862. Lincoln tetap pada keyakinannya meskipun ditentang oleh sejumlah pihak.

Iimbauan itu disampaikan oleh staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Zaenal Arifin Mochar, dalam perbincangannya dengan Kompas, Sabtu (24/9/2011) malam. Zaenal berbicara tentang rencana Presiden Yudhoyono melakukan reshuffle kabinet.

Saat mau memerdekakan para budak, Lincoln memanggil semua menterinya. Ia mendapatkan beragam masukan. Namun, dua hari kemudian, dia tetap memutuskan untuk membebaskan para budak. "Ia tidak peduli dengan keberatan-keberatan pendukung Konfederasi. Ia mengungkapkan, This subject is on my mind and mine," kata Zaenal.

Menurut dia, yang dibutuhkan oleh seorang Presiden adalah ketegasan dan keberanian seperti yang dimiliki Lincoln. Mendengarkan masukan dari sejumlah pihak dan kelompok kepentingan diperbolehkan, tetapi keputusan otoriter berada di tangan Presiden.

"Barometernya adalah kepentingan publik. Aspirasi publik harus didahulukan daripada aspirasi partai politik," ujar Zaenal.

Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparinga mengungkapkan, Presiden berharap telah memiliki tim baru pada hari pertama memasuki tahun ketiga masa pemerintahannya. Demikian catatan online Mesin Glundung yang berjudul Mencontoh keberanian dan ketegasan Presiden ke-16 Amerika Serikat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel