Pertumbuhan warga Amerika Serikat

Pertumbuhan warga Amerika Serikat (AS) yang memeluk Islam meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir. Dalam satu dasarwarsa ini, pertumbuhannya mencapai empat kali lipat dari sebelumnya. Chairman Moeslim Foundationof America Syamsi Alimengatakan, peningkatan kuantitas warga Negeri Paman Sam yang menjadi muslim bahkan melonjak tajam pascainsiden runtuhnya World Trade Center (WTC), 11 September 2001.

Hanya saja, Syamsi Ali tidak menjelaskanapaalasanyangmembuat warga Amerika mulai terbuka setelah luluh lantaknya simbol kekuatan ekonomi AS itu. Tak hanya dari sisi jumlah, menurut dia, secara kuantitas, muslim di negera adi kuasa itu mengalami peningkatan kualitas. “Tapi lebih dari itu, Islam sudah memasuki semua lini kehidupan. Ada dua staf White House (Gedung Putih) beragama Islam, salah satunya wanita muslim keturunan Mesir pakai jilbab. Islam berkembang sangat luar biasa.

Sebelum peristiwa September,dalam sebulan, yang masuk Islam sekitar ratusan orang, setelah September 4 kali lipat,” kata putra kelahiran Kajang, Bulukumba ini. Kendati demikian, kata dia, warga AS masih phobia terhadap dunia Islam. Dia mencontohkan, kadang mendapat perlakuan yang tidak wajar hanya karena persolan nama. Saya harus mengakui bahwa IslamPhobia masih terjadi di Amerika Serikat, kata Syamsi Ali saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional bertema Islam di Mata Amerika dan Posisi Indonesia di Hotel Santika Makassar, kemarin.

Selain Syamsi Ali,yang juga imam Masjid Islamic Centre of New York ini, seminar yang dilaksanakan Universitas Negeri Makassar (UNM) itu juga menghadirkan tiga pembicara lainnya, yakni anggota DPR Akbar Faizal, Dosen Univeritas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Dr Mustamin Arsyad MA, serta Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik TVRI Hazairin Sitepu. Syamsi Ali mengatakan, ummat Islam di AS masih dianggap tamu di negeri adi daya tersebut.

Predikat itu, kata Syamsi Ali, terus dilawan oleh komunitas muslim di Negeri Paman Sam ini. “Kami ummat Islam di Amerika menentang persepsi yang seperti itu.Kami menumbuhkan anggapan bahwa kita bukan tamu, tapi, menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari Amerika Serikat,” kata Syamsi Ali yang jika di AS dipanggil Shamsi Ali. Pimpinan Perhimpunan Muslim di Amerika Serikat ini mengatakan, penganut agama lainnya terus berupaya menyudutkan ummat Islam seperti dari Timur Tengah, Pakistan, serta Afrika.

“Bahwa orang neo konservatif di Amerika selalu berusaha ingin menyudutkan orang Islam dan menjadikan tamu. Ketika akan melakukan sebuahproject akan ditentang karena dianggap project orang asing,”ujar dia. Menurut dia yang harus dilakukan adalah memberikan pencitraan kepada warga dunia agar Islam menjadi daya magnit yang menarik hati. Dia mengatakan, banyak warga AS yang bersahabat dan toleran. Dia mencontohkan - pembangunan masjid di AS.

Meski belakangan masih ada penolakan pembangunan masjid yang hendak didirikan di kawasan WTC yang dikenal dengan sebutan Ground Zero di New York. “Permasalahan pembangunan masjid ini di politisir,” kata pria kelahiran 5 Oktober 1967 ini. Sekadar diketahui, pada 11 September, teroris membajak empat pesawat komersil. Dua pesawat; American Airlanes dan United Airlanes menabrak menara kembar WTC (sisi Utara dan Selatan).

Satu pesawat milik American Airlanes menyasar simbol pertahanan AS, Pentagon dan satu lainnya jatuh di Pennsylvania bersama 93 penumpangnya. Meski kronologis tabrakan dan insiden pesawat itu masih menjadi perdebatan (dugaan adanya konspirasi), termasuk teroris dari pihak mana pelakunya, toh moncong senjata tuduhan Amerika atau dalam hal ini George W Bush mengarah kepada Islam.

Telunjuk Bush mengarah pada jaringan Alqaedah pimpinan Osama bin Laden yang kemudian menjadi alasan pembenar Amerika menyerang Afganistan. Pembicara lainnya Akbar Faizal berpendapat, pentingnya komunikasi untuk menghilangkan phobia terhadap Islam terutama di Amerika Serikat. Akbar Faizal tidak sependapat dengan Syamsi Ali soal pendapat publik AS tentang Islam pascaperistiwa 11 September.

Dia mengutip, sebuah survei yang dilakukan pada 2003 oleh Pusat Riset Pew melaporkan bahwa persentase orang AS yang memandang baik Islam meningkat 1% menjadi 34% dari 2002 dan 2003, lalu meningkat lagi menjadi 36% di tahun 2005. “Hasil survei ini menunjukkan bahwa publik AS yang memiliki pandangan negatif terhadap Islam dan muslim pascapenyerangan WTC dan Pentagon jumlahnya relatif besar,”kata dia. Olehnya, dia menyerukan kepada ummat Islam khususnya di Indonesia mengedepankan komunikasi yang baik.

Selama ini, kata dia muslim AS yang tergabung dalam beberapa organisasi berupaya keras menghilangkan Islamphobia di AS. Sementara Hazairin Sitepu dan Mustamin lebih banyak membahas tentang pentingnya kalangan akademisi di perguruan tinggi memberikan pemahaman yang benar tentang AS. Menurut Mustamin oleh kalangan AS sering membagi Islam menjadi tiga yakni Islam radikal, Islam liberal, Islam moderat. Bagaimana nasib negara Muslin di Timur Tengah?

Menurut Syamsi Ali, perjuangan Palestina akan terus mengalami jalan buntu sepanjang Yahudi masih kuat di Amerika Serikat. “Realitas Yahudi sangat kuat di Amerika,”kata dia menjawab pertanyaaan Agustina, mahasiswa Universitas Veteran Republik Indonesia Makassar, salah satu peserta seminar. Menurut dia,warga muslim di AS terus membangun jaringan untuk mempengaruhi realitas politik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel