Mengembangkan Cara Berpikir Baru

Komitmen dunia usaha pada bisnis yang berkelanjutan harus semakin diperkuat. Karena itu, kalangan industri perlu mengembangkan cara berpikir baru, komitmen dan praktik-praktik terbaik yang mendukung binis berkelanjutan.

"Cara berbisnis yang biasanya (business as usual) harus ditinggalkan, agar ekonomi Indonesia dapat berdaya saing tinggi di tataran global," kata Ketua Indonesia Business Council for Sustainable Development Dewan Bisnis Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjutan/IBCSD), Kusnan Rahmin. Ia mengatakan hal itu dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, di Jakarta, Selasa (5/6/2012).

Menurut Kusnan, peran sektor swasta di Indonesia dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan sangat krusial. Karena itu, dunia bisnis harus memperhatikan faktor keseimbangan lingkungan, sosial dan ekonomi untuk keberlanjutan usahanya.

Dalam 40 tahun ke depan, sambung Kusnan, penduduk dunia akan bertambah sekitar 30 persen. Kondisi ini akan membawa pengaruh besar terhadap ketersediaan pangan, energi, air bersih, tempat tinggal dan berbagai persoalan lainnya. Persoalan-persoalan ini harus diantisipasi dan dipikirkan sejak awal," kata Kusnan.

Menghadapi lonjakan pertumbuhan penduduk, sambung Kusnan, bagi dunia usaha merupakan suatu peluang. Namun, jika tidak disertai dengan inovasi dan solusi bisnis yang tepat justru akan menjadi masalah di kemudian hari.

Komitmen dunia usaha

Perusahaan yang tergabung dalam IBCSD, merupakan perusahaan di Indonesia yang menyatakan mempunyai komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan. Sejak didirikan 2011, ada sembilan perusahaan yang sudah bergabung dan kecenderungannya terus bertambah.

Presiden Komisaris PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Tony Wenas, yang perusahaannya tergabung dalam IBCSD, mengatakan, pembangunan berkelanjutan menjadi pilihan penting dan sudah seharusnya menjadi pilihan dunai industri.

Tony mengatakan, sekitar 87 persen energi yang dibutuhkan untuk operasional RAPP dihasilkan dari energi terbarukan limbah kayu akasia, berupa black liquor dan wood bark. Hanya 13 persen saja RAPP menggunakan energi dari batu bara dan gas.

"Bahkan grup RAPP telah berinvestasi sebesar 2,3 juta dollar AS untuk pembangunan pabrik biofuel methanol untuk mengurangi efek gas rumah kaca," jelas Tony Wenas

Presiden Direktur Medco Power Indonesia, Fazil Erwin Alfitri, mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya merupakan bagian dari Medco Energi dan Saratoga Group yang berfokus pada investasi kelistrikan berbasiskan energi ramah lingkungan dan terbarukan (renewable energy).

Investasi pembangunan berkelanjutan ini telah diterapkan pada beberapa pembangkit listrik yang menggunakan tenaga gas bumi di Batam dan Sumatera Selatan. Sedangkan proyek pembangkit listrik bertenaga geothermal sedang dikembangkan di Sarulla dan Ijen .

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel