ketidaksuburan

Infertilitas (ketidaksuburan) yang mengakibatkan sulitnya mendapatkan keturunan, adalah masalah yang saat ini makin sering melanda pasangan suami-istri (pasutri) muda. Masyarakat sering mendakwa pihak wanita sebagai penyebab infertilitas yang terjadi, padahal pria memiliki peluang infertilitas yang sama besar.

Infertilitas merupakan kondisi ketidakmampuan pasutri untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 1-2 tahun. Para ahli mengungkapkan bahwa ketika pasutri mengalami infertilitas, maka sepertiganya disebabkan oleh wanita, sepertiga disebabkan oleh pria dan sepertiganya lagi bisa disebabkan oleh keduanya. Oleh sebab itu, baik wanita maupun pria harus bersedia memeriksakan masalah fertilitas (kesuburan) bersama-sama.

Faktor gaya hidup dan lingkungan diduga sebagai pemicu sebagian besar kasus infertilitas yang terjadi pada pria saat ini. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh pada fungsi reproduksi pria atau sperma, seperti misalnya pola makan, obesitas, polusi udara (paparan zat beracun), kebiasaan minum alkohol dan merokok, pekerjaan yang mengharuskan duduk berjam-jam dan bersinggungan dengan radiasi tinggi, serta kebiasaan memangku laptop.

Faktor genetik, usia, gangguan hormon, kelainan organ reproduksi, penyakit infeksi dan beberapa penyakit lain merupakan penyebab infertilitas pada pria. Mengetahui penyebab infertilitas pada pria sangat perlu untuk dapat segera mengatasi kondisi sulit mendapatkan keturunan. Infertilitas memang tidak menyebabkan kematian, tapi tidak kunjung mendapatkan keturunan bisa menjadi ‘badai’ dalam keluarga.

Penyebab infertilitas dapat diketahui awalnya melalui pemeriksaan riwayat medis (anamnesa) dan pemeriksaan fisik oleh dokter, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium adalah bagian yang penting untuk mengetahui kemungkinan terjadinya gangguan pada setiap proses reproduksi pria. Pemeriksaan laboratorium yang umumnya dilakukan adalah :

1. Analisa sperma

Kehamilan terjadi karena adanya pertemuan antara sel telur dan sperma. Oleh sebab itu, pemeriksaan terhadap sperma adalah bagian utama yang harus dijalankan. Pada analisa sperma, ada tiga hal yang diperiksa untuk mengevaluasi fertilitas (kesuburan) pria yaitu jumlah, kualitas gerakan dan bentuk sperma.

Untuk melakukan analisa sperma diperlukan persiapan khusus sebelumnya, yaitu tidak boleh mengalami ejakulasi, baik melalui aktivitas seksual, mastubarsi atau pun pengeluaran sperma pada saat mimpi dalam waktu 2-7 hari sebelum pemeriksaan, karena akan mempengaruhi kuantitas (jumlah) dan kualitas sperma.

2. Urinalisis

Pemeriksaan urine lengkap paska ejakulasi dilakukan untuk menunjang dugaan retrogade ejaculation, yaitu suatu keadaan di mana terjadi kelainan pada saluran keluarnya sperma yang mengakibatkan sperma tidak keluar sebagaimana mestinya, melainkan masuk dan keluar melalui saluran kemih.

3. Folicle – stimulating hormone (FSH)

Folicle – stimulating hormone (FSH) diproduksi oleh kelenjar pituitari, organ berukuran anggur yang ditemukan pada dasar otak. Pada pria, FSH menstimulasi testis untuk memproduksi sperma yang matang. Kadar FSH relatif konstan setelah masa remaja atau pubertas.

Pemeriksaan FSH sering dilakukan bersama dengan pemeriksaan hormon lain yaitu luteinizing hormone (LH) dan testosteron untuk evaluasi infertilitas pada pria. Pengukuran kadar FSH berguna untuk menentukan penyebab jumlah sperma yang sedikit pada pria.

4. Luteinizing hormone (LH)

Sama seperti FSH, luteinizing hormone (LH) juga diproduksi oleh kelenjar pituitari dan kadarnya relatif konstan setelah masa remaja atau pubertas. LH pada pria akan merangsang tipe sel tertentu (sel Leydig) dalam testis untuk memproduksi testosteron.

Pengukuran kadar LH bersama dengan pemeriksaan hormon lain berguna untuk diagnosis penyakit pituitari atau penyakit terkait testis.

5. Free Testosteron Indeks (FTI)

Free Testosteron Indeks (FTI) merupakan pemeriksaan yang direkomendasikan untuk menilai status androgen. FTI terdiri dari pemeriksaan testosteron total dan Sex Binding Globuline Hormone (SHBG).

6. Prolaktin

Prolaktin adalah hormon yang diproduksi oleh bagian depan dari kelenjar pituitari. Secara normal, prolaktin terdapat dalam jumlah yang sedikit pada pria dan wanita tidak hamil. Prolaktin memiliki peran utama pada proses laktasi (produksi ASI). Pemeriksaan prolaktin bersama dengan pemeriksaan hormon lain dapat digunakan untuk membantu diagnosis infertilitas dan disfungsi ereksi pada pria. Peningkatan kadar prolaktin pada pria dapat menyebabkan penurunan libido dan fungsi seksual secara bertahap.

Kadar prolaktin bervariasi dalam periode 24 jam, meningkat selama tidur dan mencapai puncak pada pagi hari. Secara ideal, sampel darah untuk pemeriksaan prolaktin sebaiknya diambil segera setelah bangun tidur di pagi hari dan beristirahat tenang selama 30 menit sebelumnya, atau sesuai dengan petunjuk dokter.

7. Antibodi Sperma

Salah satu faktor infertilitas yang disebabkan oleh pria adalah terbentuknya antibodi terhadap sperma. Antibodi terhadap sperma merupakan fenomena autoimun, karena sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen tubuh sendiri yaitu sperma. Antibodi ini dapat ditemukan dalam darah, plasma seminal maupun terikat pada permukaan sperma pada beberapa pria dengan penyakit testikular serta penyakit autoimun spermatogenesis.

Semua pemeriksaan laboratorium di atas tersedia di Prodia dengan nama panel kesuburan laki-laki.

Pemeriksaan infertilitas pada pria lebih mudah dan tidak menyakitkan, serta biayanya lebih terjangkau dibandingkan pada wanita. Oleh sebab itu, ketika satu pasutri mengalami kesulitan mendapatkan keturunan, ada baiknya bila  pihak pria yang melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel